Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kanzus Sholawat Pekalongan tahun 2016: NKRI Harga Mati
Pekalongan-
Para
Ulama dan akademisi dari 9 negara menghadiri Konferensi Ulama Thariqoh di Hotel
Santika Kota Pekalogan pada hari Jumat, 15 Januari 2016 lalu. Keesokan harinya,
Sabtu 16 Januari 2016 Warga Pekalongan tumpah ruah di sepanjang Jalan Diponegoro
hingga Lapangan Jatayu Kota Pekalongan guna menyaksikan dan ikut memeriahkan
Pawai Panjang Jimat dalam serangkaian acara Peringatan Maulid Nabi SAW. Kanzus
Sholawat Kota Pekalongan.
Ditengah
Kabar duka terror di 6 titik berbeda di Ibu Kota, Pekalongan dengan Kanzus
Sholawatnya mampu memupuk optimisme dan memperlihatkan Islam yang sebenarnya,
yaitu wajah Islam yang Rahmatan Lil Alamin, Rahmat bagi seluruh alam.
Serangkaian Acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. diadakan oleh Kanzus
Sholawat Pekalongan yang dipimpin oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya yang
mengangkat tema global bela Negara dan cinta tanah air. Termasuk dalam
serangkaian acara tersebut adalah Konferensi Ulama Thariqoh, Silaturrahmi
Mursyid Thariqoh, Kirab “Merah-Putih”, Pawai Panjang Jimat, Khotaman Al-Quran,
Pembacaan Rotibul Kubra, Dalailul Khairot, Maulid Nabi SAW, dan lain
sebagainya.
Konferensi
Ulama Thoriqoh dilaksanakan pada hari Jumat, 15 Januari 2016 di Hotel Santika
Kota Pekalongan. Konferensi tersebut dihadiri oleh para ulama dan akademisi
dari 9 negara dan mengangkat tema “Bela Negara : Konsep dan Urgensinya dalam
Islam”. Tema tersebut dibahas mengingat keadaan Indonesia bahkan dunia saat ini
dan pentingnya disosialisasikannya hubungan agama dan Negara yang notabene tak
dapat dipisahkan, Para ulama melihat bahwa ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan bukan
sesuatu yang bertentangan bahkan justru tak dapat dipisahkan seperti yang
ditulis oleh Sya’roni As-Samfuriy di Muslimmedianews.com.
Suasana
gabungan ke-Islaman dan ke-Indonesian pada serangkaian acara Peringatan Maulid ini semakin terasa pada Kirab
“Merah-Putih” dan Pawai Panjang Jimat yang diadakan keesokan harinya pada
Sabtu, 16 Januari 2016. Kirab “Merah-Putih” dimulai pada pukul 09.00 WIB,
puluhan Bendera Merah-Putih dikibarkan oleh para peserta kirab. Suasana
nasionalisme dan cinta tanah air semakin terlihat dengan dikibarkan banyak
bendera mini bertuliskan “NKRI Harga Mati” oleh anak-anak kecil. Dengan
demikian, melalui kirab “Merah-Putih” ini, nasionalisme diperkenalkan sejak
dini. Kirab dimulai dari Masin, Warungasem, Batang, dan finish di Alun-Alun Kota Pekalongan. Sedangkan Pawai Panjang Jimat dimulai
pada pukul 13.00 dari Alun-alun Kota Pekalongan dan berakhir di Lapangan Jatayu
Kota Pekalongan serta mengusung tema “Kadar Bobot Keimanan Seseorang Tergantung
pada Kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW. Kadar Bobot kecintaan pada Bangsa,
tergantung Kecintaanya pada Tanah Air”. Pawai ini dimeriahkan oleh banyak
peserta dari berbagai elemen masyarakat Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan,
Kabupaten Batang, bahkan para Taruna AKPOL Semarang turut serta.
Peserta
Pawai Panjang Jimat ini terdiri dari berbagai kalangan dan etnis yang
menggambarkan kerukunan umat beragama di Pekalongan dan Indonesia pada umumnya.
Peserta pawai ini diantaranya adalah SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK di Pekalongan dan
sekitarnya, Taruna AKPOL Semarang, Jamiyyah Rotibul Kubro, Banser NU, bahkan dimeriahkan
oleh para anggota TNI yang mempersembahkan atraksi barongsai dan naga mas, dan
diikuti oleh peserta lain yang tidak kalah menarik perhatian warga Pekalongan. Dalam
pawai ini pula ditampilkan berbagai kesenian budaya dan atraksi menarik seperti
musik angklung, permainan egrang, music rebana, marching band dari berbagai
elemen masyarakat, modifikasi unik batik pekalongan, barongsai, gerak positif,
dan lain sebagainya. Pawai ini adalah simbol persatuan bangsa Indonesia dengan
berbagai budayanya. Pawai tahunan ini selalu berhasil menarik perhatian warga
pekalongan sehingga rela menunggu di sepanjang jalan dan perdesakan untuk
sekedar menyaksikan dan meramaikan pawai panjang jimat sebagai salah satu
bentuk apresiasi yang sangat besar. Jadilah pawai panjang Jimat ini tidak
sekedar acara seremonial, pawai ini telah menjadi hiburan murah nan meriah bagi
warga Pekalongan yang dapat dinikmati oleh semua kalangan, baik kalangan yang
diatas, menengah, maupun yang dibawah garis kemiskinan.
Pawai
ini tak sekedar mencerminkan atau simbol persatuan bangsa Indonesia dan
memperlihatkan wajah Islam yang rahmatan lil alamin, lebih dari itu, secara
konkrit, pawai semacam ini membawa keberkahan ekonomi. Ya, mungkin pawai
semacam inilah bentuk ekonomi kerakyatan ala Indonesia. Dari pawai ini, ekonomi
kelas menengah ke bawah hidup, para pedagang asongan laris manis dagangannya
diserbu penonton pawai, tidak ketinggalan, berkah juga menghampiri para
pedagang kaki lima yang membuka lapaknya disepanjang jalan. Roda ekonomi rakyat
kecil kembali berputar.
Serangkaian
acara Maulid akbar Kanzus Sholawat dilanjutkan dengan Khotmil Quran pada Sabtu
malam 16 Januari hingga Minggu pagi 17 Januari, kemudian dilanjutkan dengan
rangkaian acara peringatan Maulid Nabi seperti pembacaan qosidah Simthudduror,
dalailul khoirot dan Pembacaan maulid Nabi Muhammad SAW didepan dan sekitar
gedung Kanzus Sholawat Pekalongan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, akan banyak
sekali jamaah yang hadir dari dalam dan luar kota Pekalongan. Hari ini, akan
datang puluhan ribu jamaah dari berbagai kota seantero Nusantara ke Peklongan
untuk Menghadiri Maulid Akbar Kanzus Sholawat Pekalongan bersama Maulana Habib
Luthfi dan para ulama lain.
Komentar
Posting Komentar