Tentang ROB
Kawan,
Mungkin ini kali pertama aku memposting tulisan tanpa struktur, tak mengikuti
format apapun, bukan deskripsi, bukan argumentasi, bukan pula eksposisi, dan
bukan apapun itu namanya, hanya tulisan ringan. Dalam tulisan yang tanpa
persiapan sama sekali ini, aku hanya ingin bercerita kepadamu kawan, siapapun
yang mau membaca tulisan ini. Jadi, marilah kita mulai saja ceritanya kawan.
Kawan,
pernahkah kau mengalami ini : saat kau bangun di pagi hari kemudian bersiap
pergi ke sekolah seperti biasanya, kau mendapati air menggenangi jalanan depan rumahmu tanpa
hujan semalam atau beberapa hari sebelumnya. Kemudian kau tetap pergi sekolah
menggunakan sepedamu, dan sepulang sekolah kau juga masih mendapati genangan
air itu tetap membanjiri jalanan depan rumahmu. Meski tak seberapa dalam,
genangan air itu tak seperti biasa (tak seperti
genangan air hujan), genangan berwarna kehitaman dan benar-benar diam,
sama sekali tak mengalir. Dan saat kau bangun keesokan paginya, kau masih mendapatinya,
genangan itu diam seperti tak mau
beranjak sampai beberapa hari berikutnya. Dan ketika genangan itu tak kau
jumpai lagi, kau dapati jalanan lengket. Lalu beberapa minggu kemudian, kau
menjumpai air itu lagi dan menggenang lagi selama beberapa hari, ya kawan,
walaupun saat itu bukanlah musim hujan.
Ya,
lebih kurang seperti itulah banjir rob yang pernah aku alami. Tapi itu dulu
kawan, saat ini, pemerintah setempat telah membuat polder untuk satu titik rob
di daerahku dan itu cukup berhasil, kini, tak kudapati lagi genangan air
kehitaman disekitar rumahku kecuali jika musim hujan tiba. Tapi kawan, apa yang
aku alami itu belum seberapa, ya, karena banjir rob saat itu belum sampai
menggenangi bagian dalam rumahku. Dan taukah kau kawan, rumahku ini berada di
kelurahan Krapyak Kota Pekalongan yang berjarak sekitar 1 km dari bibir pantai.
Oya, baiklah kawan, sepertinya aku lupa menjelaskan padamu apa itu ROB. ROB
adalah istilah yang kami gunakan untuk menyebut banjir air laut, banjir ini
disebabkan oleh pasang laut, dan banyak terjadi di kota-kota di pesisir utara
jawa. Bicara soal kota, aku tinggal di Kota Pekalongan (tentunya sebelum pergi
merantau untuk kuliah), ya, Kota yang berjuluk Kota Batik itu. Banjir ROB sudah
cukup lama menjadi masalah utama kota yang sedang berkembang ini.
Kawan,
telah kukatakan padamu bahwa rob yang pernah aku alami belum seberapa, karena
di Kota Pekalongan ada titik rob lain yang lebih parah dan sampai saat ini
belum dapat tertangani secara maksimal. Kebetulan ada saudaraku yang tinggal di
daerah tersebut, maka terkadang aku pergi berkunjung dan yang kulihat
seringkali adalah keadaan yang begitu menyedihkan, parah akibat rob. Ya, akan
kuceritakan padamu kawan, di daerah itu, kawan, banjir tak terjadi tahunan
ataupun bulanan, didaerah itu, banjir rob dapat terjadi kapan saja, datang
secara tiba-tiba dan menggenangi rumah-rumah mereka bukan selama 1-2jam, tapi
selama beberapa hari. Banjir rob tak datang beberapa bulan atau minggu sekali,
seringkali, belum lama banjir rob baru saja reda, beberapa saat kemudian banjir
rob kembali menghampiri, menggenangi kembali jalanan dan rumah-rumah dengan air
payau yang coklat kehitaman. Dapatkah kau bayangkan itu kawan? Bukankah ini
masalah besar menurutmu kawan? Sudah lama aku memikirkan bagaimana cara
mengatasi semua itu.
Jadilah
aku intens mencari tau tentang banjir rob. Hasilnya? Aku dapati bahwa banjir
rob adalah masalah kompleks. Penyelesaian tercanggih yang kutahu adalah di
Amsterdam Belanda sana, itupun dengan membangun sistem polder dan tanggul laut
yang luar biasa besar dan itu hanya untuk 1 kota. Aih, bagaimana dengan kota
kecilku ini, pikirku. Mega Proyek pembuatan sistem polder dan tanggul laut
raksasa akan membutuhkan dana yang sangat besar, terlebih masalah rob bukan
hanya terjadi di kotaku.
Masalah rob
juga terjadi di semarang, Jakarta, bahkan kudengar telah menenggelamkan
beberapa desa di demak. Aih, ini masalah besar kawan. Dan tau kah kau kawan,
apa yang dilakukan warga di daerah rob itu? Untuk menghindari genangan banjir rob
di jalanan, kuamati, warga selalu memperbaiki, dan meninggikan badan jalan, hal
tersebut tak hanya dilakukan 1 kali kawan, beberapa kali badan jalan
ditinggikan. Aih, peninggian badan jalan dan pengaspalan jalan berulang macam
ini bukan solusi pikirku. Dan taukah kau apa akibatnya kawan? Rumah-rumah
disepanjang jalan tersebut mau tak mau harus ikut ditinggikan lantainya,
bukankah itu membutuhkan dana pribadi masing-masing empunya rumah yang tentunya
tak sedikit guna menguruk dan memasang ulang lantai. dan yang terjadi kemudian
adalah rumah-rumah yang tak sanggup meninggikan bangunannya/lantainya tentunya
akan dimasuki banjir rob lebih tinggi, genangan rob yang ‘untuk sementara
waktu’ tak menggenangi badan jalan karena telah ditinggikan berbalik menggenangi
rumah-rumah yang tak sanggup meninggikan bangunannya, tentunya dengan kedalaman
banjir yang semakin parah.
Nyatanya
kawan, semakin lama, banjir rob semakin menjadi dan kembali menggenangi badan
jalan yang sebelumnya sudah ditinggikan, hal itu terjadi berulang. Rumah-rumah
yang tak mampu meninggikan bangunannya pun semakin tenggelam ditelan banjir
rob, akhirnya ditinggalkan empunya. Ya, entahlah kawan, aku pun berpikir,
kemana mereka akan tinggal jika rumahnya macam itu. Atau andai kata tetap
tinggal, bagaimana bisa mereka sanggup hidup dengan genangan rob setiap
harinya. Aih, masalah ini belum juga dapat diatasi dengan tepat, dan selalu
mengganggu pikiranku kawan, aku hanya berharap suatu saat nanti aku akan dapat
menemukan cara untuk mengatasi semua tentang rob tentu dengan bekal ilmu yang
sedang aku pelajari. Ya, dapat dikatakan mengatasi rob adalah cita-cita
terbesarku saat ini karena aku telah mengalaminya dahulu.


Komentar
Posting Komentar